

TANGGUNG JAWAB



BAGIAN 1
TANGGUNG JAWAB
DE F I N I S I
Setiap manusia yang terlahir di
dunia sudah pasti akan menanggung sebuah beban, baik itu kadarnya berat maupun
ringan. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tanggung jawab yang kita tanggung
sejak terlahir di dunia ini tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Walaupun
terasa berat, itu hanya perasaan atau sugesti kita saja terhadap beban yang
kita tanggung. Tanggung jawab merupakan sifat terpuji yang mendasar pada diri
manusia. Akan tetapi tinggi rendah tanggung jawab seseorang tergantung pada
kepribadian seseorang. Semakin baik kepribadian seseorang maka semakin tinggi
tanggung jawabnya. Rasa tanggung jawab
adalah pengertian dasar untuk memahami manusia sebagai mahkluk susila, dan
tinggi rendahnya akhlak yang dimilikinya. Rasa tanggung tidak hanya berlaku pada
diri kita sendiri, akan tetapi cakupannya bisa lebih luas. Rasa tanggung jawab
bisa mencakup rasa tanggung jawab kepada keluarga, negara maupun pada Sang
Pencipta. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab didefinisikan
sebagai keadaaan dimana wajib menanggung segala sesuatu, sehingga berkewajiban
menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab
dan menanggung akibatnya. Selain itu, tanggung jawab dapat juga didefinisikan
sebagai kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja
maupun tidak disengaja. Menurut buku kecerdasan ruhaniah, Tanggung jawab adalah
kemampuan seseorang untuk menunaikan amanah karena adanya harapan atau tujuan
tertentu. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab. Manusia merasa
bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatanya,
dan juga menyadari bahwa pihak lain
memerlukan pengabdian atau pengorbannya. Tanggung jawab merupakan kodrat
seorang manusia, artinya memang merupakan bagian hidup dari seorang manusia
atau seseorang pasti akan menanggung jawab sebuah beban.
MENGAPA KITA HARUS
TANGGU JAWAB
Tanggung jawab merupakan ciri-ciri
manusia yang sadar akan amanah yang dititipkan kepadanya. Manusia harus
bertanggung jawab karena setiap tindakannya akan menghasilkan akibat buruk dan
baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Berikut ini alasan pentingnya
memiliki sifat tanggung jawab:
1.
Setiap manusia harus memiliki tanggung
jawab jika mau dipandang sebagai manusia karena orang tidak memiliki tanggung
jawab akan hanya memenuhi bumi kita yang sempit ini. Tanggung jawab berarti
melakukan apa yang harus kita lakukan misalkan kita sebagai pelajar, tanggung
jawab yang kita miliki adalah belajar dan membayar uang sekolah. Tanggung jawab
sangat penting sekali di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk contoh sederhana
adalah membuang sampah, kita sebagai masyarakat harus bertanggung jawab atas
lingkungan yang kita tinggali dari sisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan. Maka
dari itu tanggung jawab sangat diwajibkan bagi semua orang untuk melakukannya.
Banyak sekali orang tidak mau melakukan tanggung jawabnya.
2.
Jika kita tidak melakukan tanggung
jawab maka kita juga tidak mendapatkan hak kita.Jadi tanggung jawab sangat erat dengan
hak. sebagai contoh jika kita tidak membayar uang sekolah, apakah kita akan
mendapatkan tempat disekolah itu untuk belajar. Dan masih banyak hal lain yang
dapat kita lihat sehari-hari. Sebagai warga negara kita memiliki tanggung jawab
untuk membela dan mempertahankan negara kita dari gangguan dari luar maupun
dalam negeri. Selain itu, kita juga berkewajiban untuk membayar pajak. Sehingga
dengan membayar pajak tersebut kita akan memperoleh hak kita seperti kualitas
pelayanan publik dan infrastrukur umum yang semakin membaik pula. Dapat kita
bayangkan apabila seseorang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Misalnya saja
ada seseorang pelajar yang tidak melakukan tanggung jawabnya untuk belajar atau
mengerjakan tugas, maka nilai akademiknya akan berantakan. Atau ada orang tua
yang tidak menjalankan kewajibannya untuk menafkahi, mengajar dan mendidik
anak-anaknya, maka tentu saja anak – anaknya akan mengalami kesulitan di masa
depannya.
Berdasarkan pada contoh-contoh ini
dapat kita ketahui bahwa pentingnya rasa tanggung jawab untuk dimiliki setiap
orang karena dengan rasa tanggung jawab seseorang tidak mengalami kerugian baik yang berdampak pada dirinya sendiri
maupun orang lain sehingga ia akan memperoleh haknya dengan seutuhnya. Dengan
tanggung jawab, orang lain menjadi simpati terhadap kita, sehingga kualitas
kita di mata orang lain akan meningkat dengan sendirinya.
JENIS-JENIS
TANGGUNG JAWAB
Selain bertanggung jawab kepada diri
sendiri, rasa tanggung jawab kita juga terdapat pada keluarga, masyarakat dan
negara kita. Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis tanggung jawab tersebut:
1. Tanggung Jawab Terhadap Diri
Sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri
menuntut seseorang untuk sadar dalam memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan
jasmani maupun rohani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan cara
mengembangkan kepribadian sebagai manusia. Misalnya dengan bersekolah, mengikuti
les berbagai mata pelajaran, ikut serta dalam seminar motivasi, dan belajar
mengaji maupun kegiatan-kegiatan pengembangan diri lainnya. Pengembangan diri
ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu karena di dalam proses kehidupannya ia akan
mempunyai banyak tanggung jawab baik itu besar maupun kecil sehingga ia akan
mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah atau beban yang dihadapinya. Dengan
demikian tanggung jawab terhadap diri sendiri merupakan tanggung jawab yang
terkait dengan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kemanusian yang ada
pada diri setiap manusia. Misalnya, seorang pelajar yang tidak belajar ketika
hendak menghadapi ujian sekolah maka nilai yang diperolehnya tidak memuaskan.
Konsekuensi nilai yang rendah merupakan bentuk tanggung jawab pelajar tersebut
atas kemalasannya.
2. Tanggung Jawab Terhadap
Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantugan. Di dalam satu keluarga, setiap anggotanya memiliki peran dan
tanggung jawab. Ayah sebagai seorang kepala rumah tangga bertanggung jawab
untuk mencari nafkah, melindungi dan memberi rasa aman terhadap istri dan anak-anaknya. Seorang ibu juga
memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yaitu berperan untuk mengurus rumah
tangga dan mendidik anak-anaknya. Sedangkan tanggung jawab seorang anak
tergantung dari perkembangan fisik dan pikiran. Karena di dalam sebuah keluarga
terdiri atas beberapa anggota, maka sudah sepantasnya setiap anggota keluarga
bertanggung jawab untuk menjaga nama baik dan kesejahteraan anggota keluarga
lainnya.
3. Tanggung Jawab Terhadap
Masyarakat
Pada hakekatnya, sejak terlahir di
dunia manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup tanpa ada bantuan orang
lain. Seorang bayi yang baru saja lahir memerlukan perlindungan dan kasih
sayang dari keluarga sehingga ia mampu untuk tumbuh dan berkembang menjadi
orang dewasa. Di dalam hidup bermasyarakat, setiap anggota masyarakat tidak
akan lepas dari bantuan orang lain. Ini menunjukkan bahwa setiap orang
membutuhkan bantuan satu sama lain. Dengan demikian, setiap anggota masyarakat
memiliki tanggung jawab untuk membantu anggota masyarakat lainnya dengan tujuan
untuk menjaga keberlangsungan hidup di dalam masyarakat tersebut. Misalnya
memberi bantuan kepada anggota masyarakat yang sedang mengalami musibah.
4. Tanggung Jawab Terhadap
Bangsa atau Negara
Selain memiliki hak, setiap warga
negara juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap negaranya. Sebagai
warga negara kita bertanggung jawab untuk menjaga negara dari berbagai bentuk
gangguan. Misalnya: TNI memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan NKRI
dari gangguan dalam maupun luar negari. Sebagai warga negara, kita berkewajiban
untuk membayar pajak dan bertanggung jawab untuk menjaga fasilitas-fasilitas
umum yang telah disediakan negara. Karena setiap individu merupakan warga suatu
negara, maka dalam berpikir dan bertindak akan diatur oleh norma-norma dan
aturan yang berlaku di dalam negaranya.
Dengan demikian, selain bertangggung jawab
terhadap diri sendiri kita juga perlu menanamkan rasa tanggung jawab terhadap
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara agar semua hak dan kewajiban dapat
berjalan sesuai dengan peranannya. Jika setiap orang menjalankan tanggung
jawabnya sesuai dengan perannya masing-masing maka akan menimbulkan perasaan
untuk saling mengharga satu sama lain.
BEBERAPA CIRI
ORANG YANG TANGGUNG JAWAB
Pribadi yang
bertanggung jawab merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang.
Lantas seperti apakah ciri-ciri orang yang memiliki rasa tanggung jawab.
Menurut Ainy Fauziah seorang Leadership Coach dan Motivator menyebutkan bahwa
ada delapan ciri-ciri yang dapat digunakan untuk mengetahui bahwa seorang
memiliki rasa tanggung jawab, yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan
apa yang ia ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah ia ucapkan.
2. Komunikatif,
baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan maupun klien.
3. Memiliki
jiwa melayani dengan sepenuh hati sekaligus menghilangkan pemikiran “ siapa
butuh, dia yang harus datang”
4. Menjadi
pendengar yang baik termasuk hal-hal yang bersifat masukan, ide, teguran maupun
sanggahan yang menunjukkan perbedaan pendapat. Tidak penting siapa yang
berbicara tapi hal yang terpenting adalah isi dari pembicaraannya.
5. Berani
meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang dilakukannya dan
tidak menggulangi kembali kesalahan tersebut.
6. Peduli pada
kondisi orang lain, baik itu teman kerja, anggota tim, atasan, bawahan maupun
kondisi tempat ia berada.
7. Bersikap
tegas yaitu memberikan nasehat dan teguran kepada setiap orang yang salah.
Sebagai seorang atasan dan menemukan karyawannya tidak bertanggung jawab sudah
seharusnya untuk memberi nasehat dan teguran.
8. Rajin
memberi apresiasi.
Apresiasi tidak
selalu berupa materi, akan tetapi dapat juga berupa ucapan terima kasih secara
langsung kepada orang lain.
Jika kita memiliki
salah satu di antara delapan ciri di atas maka dapat dikatakan bahwa rasa
tanggung jawab di dalam diri kita mulai tumbuh. Akan tetapi sangat penting bagi
kita untuk terus menumbuhkan dan berusaha untuk meningkatkan rasa tanggung
jawab maka dengan sendirinya ciri-ciri yang lainnya akan terlihat dan tumbuh di dalam kepribadian kita.
BEBERAPA CARA
BELAJAR MENJADI TANGGUNG JAWAB
Berdasarkan pada
uraian di atas, pada kenyataannya, sikap bertanggung jawab akan membuat hidup kita menjadi lebih baik
dan memiliki banyak manfaat. Oleh karena
itu, untuk sangat penting bagi kita untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab
dalam kepribadian kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhakan
sikap atau rasa tanggung jawab:
1. Menyadari
bahwa diberi tanggung jawab itu merupakan hasil usaha
Jika kita merasa
bahwa orang lain merasa ragu untuk memberi kita tanggung jawab, mungkin itu
disebabkan oleh diri kita yang selalu mengeluh dan kurang bertanggung jawab di
dalam melakukan tugas. Atau di dalam pikiran kita timbul rasa bosan terhadap
tugas-tugas yang diberikan kepada kita karena tidak sesuai dengan keinginan
kita. Tanggung jawab tidak hanya berupa sesuatu yang sesuai dengan keinginan
kita, akan tetapi dapat juga berupa sesuatu yang membuat kita bosan. Jika kita
hanya mau menerima tanggung jawab sesuai dengan keinginan kita, hal itu
menunjukkan bahwa kita bukanlah orang yang bertanggung jawab karena tidak mau
menerima sesuatu di luar keinginan.
2. Berhenti
membuat alasan
Di dalam melakukan
sesuatu tentu saja ada sesuatu yang berada di luar kontrol kita. Orang yang
tidak bertanggung jawab biasanya akan membuat berbagai alasan terkait dengan
berbagai faktor di luar kendalinya yang menjadikannya tidak dapat menyelesaikan
suatu tugas.
3. Mengakui
kesalahan yang telah dilakukan
Suatu kewajaran bagi
kita jika melakukan sesuatu terjadi kesalahan. Akan tetapi jika kesalahan
tersebut terus berulang – ulang bukanlah hal baik bagi kita. Oleh karena itu ,
kita harus mengevaluasi setiap kesalahan yang telah terjadi. Selain itu, kita
tidak perlu untuk mencari alasan dan menutup-nutupi kesalahan tersebut. Orang
yang bertanggung jawab adalah apabila ia melakukan kesalahan ia akan mengakui
kesalahan tersebut.
4. Berhenti
menyalahkan orang lain
Tahap selanjutnya
yang dapat kita lakukan agar menjadi orang yang bertanggung jawab adalah
berhenti untuk menyalahkan orang lain. Cobala untuk mengevaluasi dan
memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi daripada menyalahankan orang lain.
Karena dengan menyalahkan orang lain akan menimbulkan rasa tidak senang orang
lain terhadap kita, dan kemungkinan akan timbul rasa dendam orang terhadap
kita. Hidup terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita, akan tetapi sikap
kita lah yang lebih penting dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi.
5. Berhenti
mengeluh
Mengeluh bukanlah
sesuatu yang dapat menyelesaikan suatu persamalahan. Menggeluh tidak akan mampu
mengubah keadaan karena tanpa disertai dengan tindakan. Walaupun disertai
dengan tindakan, hasil yang diperoleh pun tidak maksimal karena pada saat
mengeluh kita akan merasa terpaksa dalam mengerjakan tugas. Daripada mengeluh,
lebih baik kita memikirkan berbagai alternatif solusi yang dapat mengatas
berbagai masalah yang sedang terjadi.
6. Belajar
disiplin
Untuk menjadi orang
yang bertanggung jawab maka kita harus mampu untuk berlaku disiplin di dalam
setiap mengerjakan tugas. Hal ini dilakukan agar setiap pekerjaan yang kita
lakukan selesai tepat pada waktunya. Bentuk tanggung jawab terhadap suatu tugas
bukan hanya tugas tersebut dikerjakan, akan tetapi ketepatan waktu di dalam
menyelesaikannya juga merupakan tanggung jawab.
7. Belajar
menangani pekerjaan sulit
Agar kita
benar-benar menjadi orang yang bertanggung jawab, cobalah untuk sesekali untuk
mengerjakan hal-hal yang sulit. Karena dengan berbagai kesulitan tersebut akan
menumbuhkan karekter kita yang lebih kuat terhadap berbagai permasalah yang
terjadi. Jika kita hanya terbiasa dengan tugas-tugas yang mudah, daya tahan
kita terhadap suatu permasalah hanya berlevel mudah saja sehingga pada saat
datang tugas yang lebih sulit kita akan mudah mengeluh.
8. Belajar
untuk melakukan berbagai hal sekaligus
Melakukan hal secara
bersamaan merupakan kemampuan yang harus kembangkan jika ingin menjadi orang
yang bertanggung jawab. Karena pada keadaan yang nyata, biasanya kita di dalam
waktu tertentu tidak hanya mendapat satu tugas, bisa saja lebih dari satu
tugas. Walaupun mengerjakan berbagai hal dalam waktu yang relatif sama sulit
dilakukan, minimal selesaikanlah satu tugas tepat pada waktunya agar tidak
terjebak dalam tumpukan tugas.
9. Belajar
berkomitmen
Berkomitmen terhadap sesuatu
akan membantu kita belajar bahwa ada hal lain selain diri kita sendiri yang harus dijaga
untuk kelangsungan hidup kita. Semua perencanaan yang telah ditetapkan tidak akan membuahkan hasil
bila kita tidak memiliki komitmen untuk menyelesaikan atau
mengimplementasikannya.
10. Menjadi
orang yang konsisten
Konsisten dalam
melakukan sesuatu merupakan hal yang sangat penting karena ini akan menentukan
hasil yang akan kita peroleh. Jika kita tidak konsisten dengan suatu pekerjaan
maka untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi tidak tepat waktu. Konsisten
sangat penting karena dengan konsisten
kita akan menjadi fokus terhadap suatu pekerjaan.
11. Belajar
untuk menerima kritik
Terkadang hal yang
tersulit bagi kita adalah menerima kritik dari orang lain. Agar menjadi pribadi
yang bertanggung jawab, kita harus mau menerima kritit dan saran dari orang
lain karena dengan sikap yang terbuka kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam mengerjakan tugas.
12. Menjadi
orang yang dapat dipercaya
Jika di dalam diri
merasa bahwa orang lain ragu terhadap kemampuan kita, maka cobalah untuk
membuktikannya dengan mengerjakan berbagai tugas dengan penih tanggung jawah
dan serius. Sehingga pada akhirnya penilaiannya terhadap kita akan berubah
bahwa kita merupakan orang yang mampu untuk menyelesaikan tanggung jawan yang
dibebankan kepada kita.
13. Jadilah
orang yang memiliki tujuan
Agar mempunyai arah,
maka kita harus menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang dalam menyelesaikan
sesuatu. Karena dengan mempunyai tujuan kita akan termotivasi dan memiliki arah
untuk menyelesaikan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Dengan membiasakan
diri pada prilaku-prilaku di atas maka lama-kelamaan prilaku-prilaku tersebut
akan menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Untuk menjadi orang yang bertanggung
jawab kita harus memiliki komitmen untuk terus melakukan kebiasaan-kebiasaan
baru yang mungkin pada saat pertama kali melakukannya membuat diri kita
terpaksa. Akan tetapi, jika kita memiliki komitmen yang tinggi maka kita akan
mampu untuk melakukannya.
AKIBAT TIDAK
TANGGUNG JAWAB
Rasa tanggung jawab
sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Karena sangat banyak manfaat yang
dapat diperoleh karena memiliki sifat ini sebagai mana yang telah duraikan di
atas. Jadi, apakah akibat jika seseorang tidak memiliki rasa tanggung jawab
atau yang melalaikan tanggung jawabnya. Berikut ini adalah akibat yang
ditimbulkan jika seseorang tidak memiliki atau melalaikan tanggung jawab yang
dipikulnya:
1.
Tanggung jawab adalah sesuatu yang
kita lakukan sebelum menerima hak. Tanggung jawab merupakan hal yang sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa tangung jawab hidup akan
menjadi kacau. Misalnya saja ada seorang ayah yang tidak bertanggung jawab maka
keluarga akan sengsara. Atau sebagai seorang pelajar yang harus memiliki
tanggung jawab untuk belajar, jika ia tidak belajar maka nilai yang
diperolehnya rendah, bahkan menyebabkan pelajar ini tinggal kelas.
2.
Jika kita melalaikan tanggung jawab, maka
kualitas diri kita menjadi rendah. Karena selain menyangkut diri kita sendiri,
tanggung jawab juga menyangkut orang lain, yaitu penilaian orang lain terhadap
kita. Oleh karena itu, sekecil apapun tanggung jawab yang kita pikul akan
memberikan dampak. Tanggung jawab yang dilakukan dengan segera akan memberikan
manfaat berupa kebaikan, sebaliknya tanggung jawab yang dilalaikan akan menimbulkan
dampak negatif berupa keburukan.
3. Selain
itu, jika melalaikan tanggung jawab maka dengan sendirinya akan timbul merasa
bersalah dan mengecewakan orang lain. Hal ini terjadi karena setiap tanggung
jawab kita terima dari orang lain merupakan bentuk lain dari harapan orang ini
terhadap kita. Sehingga apabila tanggung jawab tersebut kita lalaikan maka harapan orang ini akan
sirna. Mungkin saja, satu kali melalaikan tanggung jawab kita masih dapat
ditoleransi, akan tetapi jika hal ini sering kita lakukan maka lama-kelamaan
kepercayaan orang terhadap kita akan hilang.
Berdasarkan pada berbagai akibat ini,
maka penting bagi kita untuk mengintropeksi diri apakah semua tanggung jawab
yang diemban kita saat ini telah dijalankan dengan baik sesuai dengan peran
kita masing-masing. Jika diri kita masih kurang bertanggung jawab atau masih
melalaikan tanggung jawab maka mulailah saat ini untuk memperbaiki diri dengan
menjalankan tanggung jawab yang kita emban saat ini ataupun yang akan datang
dengan sungguh-sungguh.
BAGIAN 2
KISAH TELADAN
BERJALAN 50 KM
SEHARI, DEMI BERTANGGUNG JAWAB KELUARGA
Kisah
inspiratif kita kali ini datang dari seseorang yang begitu sangat sederhana,
namun penuh dengan pelajaran yang amat sangat berharga. Seorang kakek berusia
71 tahun, penjual es Dawet keliling yang tinggal di pinggiran kota Surakarta.
Pak Sukimin,
nama dari kakek tersebut, seorang pahlawan keluarga yang menginjak usia renta,
tapi sama sekali tidak surut semangatnya untuk terus berjuang dan bekerja
keras. Tidak kurang dari 50 kilo meter ditempuhnya setiap hari, dengan memikul
gerobak es seberat 40 kg, mulai dari jam 5 pagi sampai jam 8 malam. Semua itu
terdorong atas kuatnya keinginan bahwa dia menjauhi sifat meminta- minta dan
karena pemenuhan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Selama 40
tahun lebih, pekerjaan tersebut telah dilakukannnya. Dan Subhanallah, kerja
keras setiap hari itupun ternyata tidak terus membuatnya jauh dari sang maha
kuasa. Walau dalam hujan dan panas, ketika mendengar adzan, seketika itu pula
pak Sukimin mencari masjid terdekat dan menjalankan sholat berjamaah. Selain
itu, cara belajar keikhlasannya yang begitu sangat sederhana, namun menyentuh
hati semua orang yang melihatnya adalah dengan penerimaannya atas pembagian
rejeki yang diterimanya dari Allah subhanahu wataala.
"Saya
pernah waktu sholat, gerobak saya tinggal didepan masjid. Saya sudah pasrahkan
sama Allah saja. Tapi ternyata ada orang jahat yang mengambil semua uang yang
telah saya dapat seharian. Tapi saya ikhlas kok. Kalau sampai diambil orang
berarti itu bukan rejeki saya. Biar untuk dia saja tidak apa- apa, semoga lebih
berguna untuk dia." Cerita bapak 5 orang anak ini.
Menurut pak
Sukimin, dalam hidup ini manusia mendapatkan peran yang bermacam- macam, namun
satu hal yang tidak boleh kita lupakan, pekerjaan apapun itu adalah untuk
mencari ridho Allah. Saja. Dan hal itulah yang meringankan hatinya jika musibah
datang menghampiri. " Seringkali ada orang yang beli namun tidak bayar,
saya menunggu sampai lama ternyata orangnya tidak membayar. ya saya tidak apa-
apa. Kan sudah diminum juga. Sah kok itu untuk dia." lanjutnya. Beliau
juga tidak terlalunya sedih saat tubuh rentanya telah lelah memikul gerobak
yang sedemikian berat, sehingga kakinya tersandung dan pecahlah semua barang
dagangannya. " Lah wong sudah jatuh, mungkin belum rejeki saya. ya nanti
kapan- kapan berarti saya diajari Allah disuruh hati- hati lagi".
Subhanallah, kemiskinan ternyata tidak menghalangi batinnya untuk menerapkan
ilmu ikhlas kepada sesamanya.
Memang, kehidupan ini tidak sempurna dan tidak banyak memberi kesenangan kepada pak Sukimin, namun hal itu juga tidak membuat beliau ragu untuk membagikan ilmunya kepada yang ingin berguru kepadanya. " Rejeki itu sudah diatur sang maha kuasa. Saya ini hanya perantara saja. saya sama sekali tidak takut tersaingi. Malah ilmu yang saya berikan nanti itu, akan menemani saya saat saya mati nanti. saya percaya itu". Sama sekali tidak ada rasa permusuhan ataupun iri dengki dalam ketatnya persaingan dan beratnya hidup. Dalam susahnya mencari rupiah, justru membuat pak Sukimin semakin berbesar hati untuk berbagi. Hal yang sangat jarang untuk bisa dilakukan, bahkan oleh orang kaya sekalipun, jika tidak murni adanya perbuatan itu yang hanya karena Allah.
Memang, kehidupan ini tidak sempurna dan tidak banyak memberi kesenangan kepada pak Sukimin, namun hal itu juga tidak membuat beliau ragu untuk membagikan ilmunya kepada yang ingin berguru kepadanya. " Rejeki itu sudah diatur sang maha kuasa. Saya ini hanya perantara saja. saya sama sekali tidak takut tersaingi. Malah ilmu yang saya berikan nanti itu, akan menemani saya saat saya mati nanti. saya percaya itu". Sama sekali tidak ada rasa permusuhan ataupun iri dengki dalam ketatnya persaingan dan beratnya hidup. Dalam susahnya mencari rupiah, justru membuat pak Sukimin semakin berbesar hati untuk berbagi. Hal yang sangat jarang untuk bisa dilakukan, bahkan oleh orang kaya sekalipun, jika tidak murni adanya perbuatan itu yang hanya karena Allah.
Kesabarannya
dalam menghabiskan jatah hidup detik per detik telah menempanya menjadi seorang
manusia yang kuat, tabah dan tidak pengeluh. Hal inilah juga yang menyebabkan
beliau tetap bersemangat untuk menjual dagangannya walaupun dalam kondisi cuaca
apapun." Kalau lagi hujan, ya saya tidak bisa berteduh, harus tetap jalan.
Nanti kasihan ibu nunggu dirumah malah kawatir. Akhirnya saya pakai saja
plastik untuk sekedar menutup tubuh agar tidak dingin " Kata Kakek dari 11
cucu tersebut.
Bagi pak
sukimin, bukan kemiskinan yang menyakitkan hatinya, tapi saat dia tidak bisa
bekerja lagi untuk menyenangkan hati keluarganya, terutama sang istri.
Penghasilan yang hanya 30 ribu rupiah sehari, tidak mengurangi kesyukurannya
atas jatah rejeki yang telah dibagikan dari sang maha kuasa. " Saya dan
istri selalu bersyukur dengan apa yang ada. buat saya yang penting istri dan
keluarga senang. Jangan pernah iri dengan yang dimiliki orang lain"
Subhanallah,
betapa akan sangat membahagiakan mempunyai ayah, ataupun suami yang bisa
menjadi tauladan seperti beliau. Beliau sangat setia kepada keluarga dan setia
kepada tanggung jawab pekerjaannya.Keluguan dan kesederhanaan serta keikhlasan
yang sangat apa adanya memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang
melihatnya. Semoga Allah selalu menjaga beliau, sebagai balasan kuatnya
penjagaan amanah beliau atas kebahagiaan keluarganya
BOCAH JADI
PEMULUNG, DEMI BANTU AYAH LUMPUH
Satu lagi sebuah kisah yang sangat
mengharukan dari Negeri Tirai Bambu, seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi
ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh
bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung
jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan
memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas
sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati
teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang
mengkliknya.
Adegan yang mengharukan Begitu sampai di
rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya
yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar
buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya,
kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu.
Dia sangat teliti melapnya, sepertinya
khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap
punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke
ayahnya. Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan
Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita
otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia
telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3
orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan
kecil itulah mereka bertahan hidup. Di sekolah Houde, anak yang seumur
dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan,
namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau
menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu
lalang, setelah aman dia baru menyeberang.
Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse
harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu
dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah
sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit. Satu
keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2 Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan
kamar kecil seukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya
masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh
debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di
dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB
(Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21″ sudah merupakan barang mewah.
Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh
dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun
berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding,
itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga. Di samping
pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada "dapur" yang dibuatnya
sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. "Makanan dan minyak
di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma
makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap
minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya,
namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia
makan." Kata Xiong Chun. Setiap hari memijat papanya 3 kali Mama Tse Tse
bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang
ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke
pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse
Tse.
Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi
jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat
gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat
tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan
memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat
papanya lagi, baru tidur. "Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse
Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan
keluarga. "Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat
terharu dan mengatakan: "Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga
ada anak seperti ini."
Boneka 5 Yuan yang paling disukainya Mama
membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika,
Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan
mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya
itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas,
bisa dijual 20 Yuan. Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling
disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. "Dia melihat boneka itu
di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya
saya nekat membelikannya," Kata Xiong Chun. Begitu Tidak Boleh Sekolah,
Langsung Menangis Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang
sekolah Tse Tse akan memindahkan "Meja kecilnya" keluar, mengejar
siang hari menyelesaikan PR-nya.
"Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak
sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat
lagi," kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan
istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung
menangis.
UMAR TAKUT JIKA
MENELANTARKAN RAKYAT
Muawiyah bin Hudaij radhiallahu ‘anhu
datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan
tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat
Umar setelah bersafar. Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan
kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. Kemudian berkata keapda
Muawiyah, “Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di
masjid?” “Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab
Muawiyah. Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah
jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku
menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan
diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan
ini wahai Muawiyah?
Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud
kasihan kepada Umar. Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar.
Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya,
sehingga mereka rela jika Umar beristirahat. Tetapi Umar sendiri malah khawatir
kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya
mereka kepadanya.
Umar berkata, “Jika ada seekor onta mati
karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban
kepadaku karena hal itu2.
Karena onta tersebut berada di wilayah kekuasaannya,
Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika onta itu
mati sia-sia; karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di
jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai
pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat. Subhanallah… kalau rasa
tanggung jawab kepada hewan pun sampai demikian, bagaimana kiranya kepada
manusia? Semoga Allah meridhai dan senantiasa merahmati Anda wahai Amirul
Mukminin…
Berkaca pada keadaan kita jalan berlubang
sehingga banyak yang celaka, banjir, macet, tidak aman di jalanan, dan lain
sebagainya. Diklaim sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Memang standarnya
berbeda.
Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam
hayatnya, Umar radhiallahu ‘anhu duduk bersimpuh kemudian membentangkan
rida’nya. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit. Ia berucap, “Ya
Allah.. sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah, sementara rakyaku
semakin banyak (karena wilayah Islam meluas pen.), cabutlah nyawaku dalam
keadaan tidak disia-siakan.”
Umar
adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya.
Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana. Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah
Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi
rakyatnya dari dekat. Nah, pada
suatu malam itu, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar
suara tangis anak². Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan
seksama keadaan gubuk itu. Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang
sedang memasak, dan di kelilingi oleh anak²nya yang masih kecil.
Si ibu
berkata kepada anak²nya: "Tunggulah...!!!
Sebentar lagi makanannya matang...!!!"
Sang
Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak²nya dan
mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang. Sang
Khalifaf menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak
kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.
Akhirnya Khalifah Umar memutuskan
untuk menemui ibu itu.
"Mengapa anak²mu tidak juga
berhenti menangis Bu...???" (tanya Sang Khalifah.)
"Mereka sangat
lapar...!!!" (jawab si ibu.)
"Kenapa tidak cepat engkau
berikan makanan yang dimasak dari tadi itu...???" (tanya Khalifah.)
"Kami tidak ada makanan. Periuk
yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah
mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan
berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur...!!!" (jawab si ibu.)
Setelah mendengar jawab si ibu, hati
sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.
Kemudian Khalifah bertanya lagi:
Kemudian Khalifah bertanya lagi:
"Apakah ibu sering berbuat
demikian setiap hari...???"
"Iya, saya sudah tidak memiliki
keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...!!!"
(jawab si ibu.)
Hati dari sang Khalifah laksana mau
copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris² oleh sebilah
pisau yang tajam.
"Mengapa ibu tidak meminta
pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat menolong dengan bantuan uang dari
Baitul Mal...???" (tanya sang khalifah lagi.)
"Ia telah zalim kepada
saya...!!!" (jawab si ibu.)
"Zalim...!!!" (kata sang
khalifah dengan sedihnya.)
"Iya, saya sangat menyesalkan
pemerintahannya. seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. siapa tahu ada banyak
orang yang senasib dengan saya...!!!" (kata si ibu.)
Khalifah Umar bin Khattab kemudian
berdiridan berkata:
"Tunggulah sebenatar Bu ya.
Saya akan segera kembali...!!!"
Di malam yang semakin larut dan
hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju
Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di
pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin
untuk memasak.
Jarak antara Madinah denga rumah ibu
itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari
tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk
mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata:
"Tidak akan aku biarkan engkau
membawa dosa²ku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku
merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak²nya
itu...!!!"
Beberapa lama kemudian sampailah
Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin
itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar
ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan
anak²nya di Baitul Mal.
Setelah keesokan harinya, ibu dan
anak²nya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu
begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah
Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf
atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya.
Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah
UMAR BIN KHATTAB
Suatu
ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang
keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing
dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia
melanjutkan.
“Sesungguhnya
seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain.
Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan
dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila
ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada
orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu
pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di
hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal
yang setimpal.”
Selesai
khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; “Ya
Amiirul Muminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas
dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu
tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”
“Katakanlah
apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.
“Saya telah
dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang
saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”
“Ya
saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” tanya khalifah Umar
ragu-ragu.
“Ya Amiirul
Muminin, benar adanya.”
“Baiklah,
kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus
mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela.
Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan
dengan memukulnya 40 kali.”
“Baik ya Amiirul
Muminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu seraya berlalu. Ia
langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir Amr bin Ash.
Ketika
sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya. “Ya Amr, sesungguhnya
seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia
diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang
terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak
yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk
memperoleh hak saya di muka umum.”
“Apakah kamu
akan menuntut gubernur?” tanya salah seorang yang hadir.
“Ya, demi
kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu tegas.
“Tetapi, dia
kan gubernur kita?”
“Seandainya
yang menghina itu Amiirul Muminin, saya juga akan menuntutnya.”
“Ya,
saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan
melihat kejadian itu agar berdiri.”
Maka
banyaklah yang berdiri.
“Apakah kamu
akan memukul gubernur?” tanya mereka.
“Ya, demi Allah
saya akan memukul dia sebanyak 40 kali.”
“Tukar saja
dengan uang sebagai pengganti pukulan itu.”
“Tidak,
walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak
itu,” jawabnya .
“Baiklah,
mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau
jadi penggantinya,” bujuk mereka.
“Saya tidak
suka pengganti.”
“Kau memang
keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun.”
“Demi Allah,
umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang
salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujarnya seraya meninggalkan
tempat.
Amr binAsh
serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari
hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.
“Ini rotan,
ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata gubernur Amr bin Ash sambil membungkukkan
badannya siap menerima hukuman balasan.
“Apakah
dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman
ini?” tanya lelaki itu.
“Tidak,
jalankan saja keinginanmu itu,” jawab gubernur.
“Tidak,
sekarang aku memaafkanmu,” kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu
sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.
AMR BIN ASH
Sejak
menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih
sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah
yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah
indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat
kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi.
Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan
gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
“Baiklah
bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.
Sepeninggal
Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat
pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan
gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.
“Ada
perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” tanya Umar bin Khattab.
Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah
yang tinggi besar dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal
penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki
kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk
memiliki rumah itu.
Merah padam
wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
“Masya
Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh
Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan.
Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu
menggores tulang itu dengan pedangnya.
“Berikan
tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah,
Al Faruq, Umar bin Khattab.
Si
Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan
saya!” ujar Yahudi itu pelan.
Dia cemas
dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali
tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali
pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi
dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.
Yahudi itu
semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash.
“Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda
ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya
untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang
sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.
“Tunggu!”
teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini.
Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan
berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini.
Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek,
tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..”
sela si kakek.
“Karena
berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah,
tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan
seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang
digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus
seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah
tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur.
“Sungguh
agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu.
Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan
mata berkaca-kaca.
1. Inilah
alasanku berhenti jadi wanita karir
Sore itu sembari
menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.
Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk
disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba
menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.
Dan akhirnya pembicaraan sampai pula
pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.
“Belum ”, jawabku datar.
Kemudian wanita berjubah panjang
(Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba
bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah
tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa
isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir.
Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”
Entah keyakinan apa yang membuatku
demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku,
akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya
resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang
bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab
“karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat
pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya?
Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini
bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya
ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak
perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja
sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami
menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena
merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?
Waktu itu jam 7 malam, suami saya
menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang.
Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita
karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu
suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa
pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta
diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing
nih, ambil sendiri lah !!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga
lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat,
Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat
suami saya tidur dengan pulasnya.
Menuju ke dapur, saya liat semua
piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami
saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi
semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua
ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar,
berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah,
hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya,
saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya,
Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan
terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya
membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak
suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini
cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada
tetesan air mata yang di usapnya.
“Kamu tahu berapa gaji suami saya?
Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh
dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada
suami saya.
Dengan gaji yang saya miliki, saya
merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan
hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali
memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari
Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya,
mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan
dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada
nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir
yang selamat dari fitnah ini”
“Alhamdulillah saya sekarang
memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih
bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah
jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya
lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya
berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih,
karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat
saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah
membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”
Aku masih terdiam, bisu mendengar
keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran
apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, bukankah kita harus memikirkan
masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang
ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen
berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak
pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.
Salah kakak juga sih, kalo mau jadi
ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang
berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih
nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma
suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal,
sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja
di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai
heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir,
menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anti tau, saya hanya bisa menangis
saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar,
Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah
DIPANDANG RENDAH olehnya.
Bagaimana mungkin dia meremehkan
setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah
memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang
yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang
yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang
yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu
orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang
begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah
pekerjaaan ?
Saya memutuskan berhenti bekerja,
karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji
suami saya.Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang
diberikan suami saya.Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi
hak-hak suami saya.
Saya berharap dengan begitu saya tak
lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya
nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga,
bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian
dengan pekerjaan seperti itu.
Disaat kebanyakan orang lebih memilih
jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami
saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal.
Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Suatu saat jika anti mendapatkan suami
seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami
anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya,
berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari
rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil
tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.
Kulihat dari kejauhan seorang
laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya
ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan
salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri
yang begitu ridho.
Ya Allah….Sekarang giliran aku yang
menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran
yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam
benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar
Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan
tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik
agamanya..
KESUKSESAN GABRIEL
Gabriel adalah satu
satunya anak dari orang tua yang sangat berpendidikan, sejak kecil ia telah
kenyang dengan perlakuan keras dan tegas oleh orang tuanya, walaupun ia anak
yang pandai cerdas dan berprestasi, akan tetapi orang tua yang idealis itu
sangat tidak merasa puas dengan setiap prestasi yang di raih anaknya dari kecil
hingga menginjak dewasa itu. Sewaktu masa, Gabriel yang duduk di bangku SD
selalu mendapatkan prestasi dan menjadi jawara kelas, bagaimana tidak, orang
tua yang sangat menerapkan kedisiplinan dan ketegasan dalam mendidik anaknya,
yang setiap hari harus belajar belajar dan belajar tanpa mengenal lelah dan
waktu.
Sepulangnya sekolah
ia harus les dan mengulang materi materi yang di pelajarinya dikelas dan
seterusnya seperti itu. Tiba pada saat sesekali ia capek dan merasa lelah, ia
menolak perintah orang tuanya untuk tidak masuk les sesekali, pada saat itu
juga orang tua langsung merespon permintaan Gabriel dengan cara mencubit,
memarahi dan memukul Gabriel, tetapi Gabriel tetap bersih keras sambil menangis
hingga merengek untuk tidak masuk les, orang tuanya pun semakin menjadi dan
berusaha memasukkan Gabriel ke dalam bak mandi dan setelah itu dikuncinya di
dalam kamar mandi selama 1 jam. Hukuman yang seperti itulah yang harus diterima
Gabriel setiap ia melakukan kesalahan dan tidak menuruti keinginan orang tuanya
bahkan bisa lebih berat lagi hukumannya. Hingga rangking 1 adalah makanan wajib
yang harus diraih Gabriel setiap semesternya. Apabila Gabriel tidak mampu
meraih rangking 1 walaupun itu hanya sekali maka gabriel harus menerima hukuman
dari kedua orang tuanya.
Awalnya Gabriel berfikir bahwa orang tuanya sangat
kejam, sehingga ia sangat dendam dan capek dengan perlakuan orang tuanya. Semua
orang pun akan berfikir yang demikian, tapi Gabriel bisa apa? Hingga suatu
ketika ia dewasa, ia berhasil menjadi seorang yang sukses dan mampu
membanggakan orang tuanya, dari situ Gabriel sadar ternyata perlakuan keras dan
tegas orang tuanya pun membawa dampak positif terhadap masa depannya, akan
tetapi agaknya gabriel terbentuk dengan kepribadian yang cenderung agak
tempramen dan pendiam, dan sangat sulit berinteraksi dengan orang disekitarnya.
KISAH TANGGUNG JAWAB SEORANG
ANAK
Di
Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja
namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang
menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh
hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai
semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak
yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan
menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk
menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah
satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar
biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006
Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara
Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh)
orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.
Mengikuti
kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat
semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa
karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar
manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia.
Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10
tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan
satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan
bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada
waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan
hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari
itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa
berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang
waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat.
Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya
sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk
dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia
masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini.
Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan
hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah
bahwa ia tidak menyerah.
Hidup
harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul
tanggung jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan
Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang
dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah.
Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam
perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan
buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput
dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang
masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah
jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan
beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari
pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras
dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun
tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.
ZhangDa
Merawat Papanya yang Sakit. Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk
merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali
memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan
papanya, semua diakerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan
ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari. Zhang Da menyuntik sendiri papanya.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk
menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia
mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang
membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan
injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk
menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main
dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun
memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa
memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang
dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika
kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah
anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang
ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah
dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan
ahli menyuntik.
Aku Mau
Mama Kembali. Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal
yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju
kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja
kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam
hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti
mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja,
di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga
ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka
bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun
berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa
membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar
iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa
membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da
bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.
KISAH INSPIRASI SEORANG ANAK 6
TAHUN
Cerita
kehidupan yang dijalani Tse Tse, seorang bocah berusia 6 tahun yang terpaksa
memikul tanggung jawab rumah tangga yang belum seharusnya menjadi
tanggung jawab dia. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan
memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas
sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati
teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang
mengkliknya.
Begitu
sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan
tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk
terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa
mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan
lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah
selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang,
selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya
Tse Tse
tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa
Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot
menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah
menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang
ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil
itulah mereka bertahan hidup Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya
dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse
Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang
jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah
aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus
mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari
belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai
rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.
Satu
keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2. Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan
kamar kecil seukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya
masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh
debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di
dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB
(Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21? sudah merupakan barang mewah.
Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh
dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun
berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding,
itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga. Di
samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada “dapur” yang dibuatnya
sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. “Makanan dan minyak di
rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma makan
malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu
mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun
setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.”
Kata Xiong Chun. Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan
menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah
menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya
semua di bebankan ke pundak Tse Tse. Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap
pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan
sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan
memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia
akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat
papanya lagi, baru tidur.
Agar
bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut
barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga. “Xiong Chun sangat sayang
anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan: “Tse Tse sangat
mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini.” Boneka 5 Yuan
yang paling disukainya Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah
penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di
tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main
sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan
anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan.Tse Tse punya satu boneka
kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya
tidur. “Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan,
saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya,” Kata Xiong Chun.
Begitu Tidak Boleh Sekolah, ia langsung menangis.
Untuk
mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan
memindahkan “Meja kecilnya” keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya.
Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena
tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi,” kata Xiong Chun.
Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti
sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis. Xiong Chun berteriak,
“Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah,
bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja.” Tse Tse yang sedang bermain
boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik
Tse Tse ke sisinya, membujuk: “Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa
sekolah!” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan
tangan mungilnya dia menyeka air matanya. “Terhadap Tse Tse, saya sungguh
menyesal….,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata
lagi. Xiong Chun berkata: “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah
harapan saya.”Sebuah kisah kehidupan yang bisa menjadi cermin bagi kita yang
lebih beruntung dari seorang bocah bernama Tse Tse
PENGAKUAN DOKTER ABORSI YANG
BERTANGGUNG JAWAB ATAS 75.000 ABORSI
Dr Bernard N. Nathanson ,
seorang aktivis hak-hak aborsi, setelah mengalami perubahan hati pada 1970-an menjadi
penentang terkemuka aborsi dan menjadi narator di layar dari film anti - aborsi
" The Silent Scream ".Dr Nathanson , seorang dokter kandungan - yang
berpraktek di Manhattan , membantu mendirikan Asosiasi Nasional untuk
Pencabutan Hukum Aborsi (sekarang NARAL Pro - Choice America ) pada tahun 1969
dan menjabat sebagai penasihat medis .
Setelah aborsi dilegalkan di
New York pada tahun 1970 , ia menjadi direktur dari Pusat Reproduksi dan
Kesehatan Seksual , yang sering disebut " klinik aborsi terbesar di dunia
Barat”. Dalam sebuah artikel 1974 yang dilaporkan secara luas di The New England
Journal of Medicine , “Deeper into Abortion,” Dr Nathanson menjelaskan keraguan
moral dan medis yang berkembang tentang aborsi .
" Saya sangat terganggu
dengan bertambahnya kepastian saya sendiri bahwa saya sebenarnya sudah
bertanggung jawab atas lebih dari 60.000 kematian . "Kegelisahannya
bertambah secara intensif melalui gambar disediakan oleh teknologi baru
fetoskopi dan USG ." Untuk pertama kalinya , kita benar-benar bisa melihat
janin manusia , mengukur itu , mengamatinya , melihatnya , dan ikatan yang
dalam dengan itu dan menyukainya , " ia kemudian menulis dalam " The
Hand of God: A Journey from Death to Life by the Abortion Doctor Who Changed
His Mind ( Regnery Publishing , 1996) . " Saya mulai melakukan itu .
"Meskipun muncul keraguan itu dan keyakinannya bahwa permintaan
aborsi adalah salah , ia terus melakukan aborsi karena alasan secara
medis masih diperlukan ." Pada tingkat emosional , saya masih menyukai
aborsi , " katanya kepada majalah New York pada tahun 1987 . " Ini
mewakili semua hal yang telah kita perjuangkan dan menangkan . Tampaknya
sungguh lebih beradab dibanding pembantaian yang telah terjadi sebelumnya.
"Tapi, ia menambahkan , " Hal itu membuat semakin kurang masuk akal
dan kurang intelektual bagi saya. "
Selain 60.000 aborsi dilakukan
di klinik , yang ia jalankan tahun 1970-1972 , ia bertanggung jawab untuk 5.000
aborsi yang ia lakukan sendiri , dan 10.000 aborsi dilakukan oleh orang di
bawah pengawasannya ketika ia menjabat sebagai kepala layanan obstetri Rumah
Sakit St Luke di Manhattan 1972-1978 .Dia melakukan prosedur terakhir di
akhir tahun 1978 atau awal tahun 1979 pada pasien lama yang menderita kanker
dan segera memulai karir baru sebagai penceramah dan menulis menentang aborsi
." The Silent Scream " sebuah film 28 menit yang diproduksi oleh
Crusade for Life , dirilis pada awal 1985 . Di dalamnya , Dr Nathanson
menggambarkan tahapan perkembangan janin dan memberikan komentar sebagai
sonogram menunjukkan secara detail grafis aborsi janin usia 12 minggu dengan
metode hisap .
"Kami melihat mulut
anak terbuka meneriakkan jeritan bisu , " katanya , seperti gambar USG ,
melambat untuk nampak dramatis , menunjukkan janin tampak menyusut dari
instrumen bedah . " Ini adalah jeritan bisu seorang anak yang terancam
binasa dalam waktu yang singkat. " Film ini
menuai pujian yang penuh antusias dari Presiden Ronald Reagan yang menunjukkan
hal itu di Gedung Putih , dan didistribusikan secara luas oleh kelompokkelompok
anti aborsi seperti National Right to Life Committee.
Pendukung hak aborsi dan
banyak dokter , mengkritik sebagai menyesatkan dan manipulatif . Beberapa ahli
medis berpendapat bahwa janin 12 minggu tidak bisa merasakan sakit karena
tidak memiliki otak atau jalur saraf berkembang , dan bahwa film menunjukkan
hanya reaksi murni yang disengaja terhadap rangsangan .
Dr Nathanson menentang para
pengkritiknyakritik dari rasionalisasi. Menanggapi dokter dari sekolah
kedokteran Cornell pada program televisi " Nightline , " katanya ,
" Jika para pendukung pro-choice berpikir bahwa mereka akan melihat janin
bahagia meluncur melalui tabung hisap dengan melambaikan tangan dan tersenyum
saat melaluinya , mereka akan benar-benar lumpuh karena syok .Dr Nathanson meraih gelar
di bidang bioetika dari Vanderbilt University pada tahun 1996 dan tahun itu
dibaptis sebagai seorang Katolik Roma - dalam sebuah upacara pribadi di
Katedral St Patrick oleh Kardinal John J. O ' Connor , uskup Agung New York.
Dia meninggal pada tahun 2011 pada usia 84 tahun.
"Saya percaya sepenuh
hati bahwa memang ada kekuasaan Sang Pencipta yang menuntun kita untuk
mengakhiri dan berbalik dari kejahatan yang sangat memalukan dan menyedihkan
terhadap umat manusia."
MENOPANG SUAMI
Seorang
istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong
menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun. Du Chanyun adalah seorang
guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu.
Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.
Tahun
1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan
menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi
Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan
dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000). Suatu
hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas.
Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan
musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki
sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja
memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.
Akhirnya
pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek.
Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat
berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan.
Meski
begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.
Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu”, demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.
Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu”, demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.
Tak
urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus mengendong
suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil.
Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari mulai
pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya
dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya
berangkat mengajar.
Di
sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di
sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid
yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah
yang menunggunya untuk dikerjakan.
Sejak
memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti
adalah musim panas dan musim dingin. Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan
sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada
jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan,
ranting-ranting pohon, sungai kecil.
Hampir
Terpeleset ke Sungai Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun
hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air
sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah
hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus
sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih. Untung tertahan
oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah
jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak
dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.
Dalam
beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa
kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li
Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh
dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang
mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami,
melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu.
Hati Du
Chanyun merasa iba.Sang Suami Menggugat CeraiPada tahun 1993, Du Chanyun
memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya. Ia
tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah
karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar.
Du
Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2
kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai. Di hari perceraian yang
ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong
suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang
suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua
orang makin gembira. Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke
lurah minta cerai, kalian pulang saja,' ujar pihak kelurahan. Setelah keributan
minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata
pada suaminya. 'Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan
menggendong kamu sampai tua.Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar Kondisi di
sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang
suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah
itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada
poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat
anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia
memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu
buat anak-anak.
Di bawah
bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin
hujan, tidak pernah bolos satu kali pun. Suatu hal yang menggembirakan, data
yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April,
tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. Tahun lalu
ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari
dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk
spesialis. Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke
kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa
yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar