Langsung ke konten utama

Tanggung jawab



Hasil gambar untuk gambar bertanggung jawabhttp://www.kesekolah.com/images2/big/2014040117241292067.jpgHasil gambar untuk gambar bertanggung jawab                                                                          













TANGGUNG JAWAB




Hasil gambar untuk suami bekerjaHasil gambar untuk tanggung jawab guruHasil gambar untuk gambar bertanggung jawab
















BAGIAN 1
TANGGUNG JAWAB



DE F I N I S I


Setiap manusia yang terlahir di dunia sudah pasti akan menanggung sebuah beban, baik itu kadarnya berat maupun ringan. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tanggung jawab yang kita tanggung sejak terlahir di dunia ini tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Walaupun terasa berat, itu hanya perasaan atau sugesti kita saja terhadap beban yang kita tanggung. Tanggung jawab merupakan sifat terpuji yang mendasar pada diri manusia. Akan tetapi tinggi rendah tanggung jawab seseorang tergantung pada kepribadian seseorang. Semakin baik kepribadian seseorang maka semakin tinggi tanggung jawabnya.  Rasa tanggung jawab adalah pengertian dasar untuk memahami manusia sebagai mahkluk susila, dan tinggi rendahnya akhlak yang dimilikinya. Rasa tanggung tidak hanya berlaku pada diri kita sendiri, akan tetapi cakupannya bisa lebih luas. Rasa tanggung jawab bisa mencakup rasa tanggung jawab kepada keluarga, negara maupun pada Sang Pencipta. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab didefinisikan sebagai keadaaan dimana wajib menanggung segala sesuatu, sehingga berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Selain itu, tanggung jawab dapat juga didefinisikan sebagai kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Menurut buku kecerdasan ruhaniah, Tanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan amanah karena adanya harapan atau tujuan tertentu. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatanya, dan  juga menyadari bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbannya. Tanggung jawab merupakan kodrat seorang manusia, artinya memang merupakan bagian hidup dari seorang manusia atau seseorang pasti akan menanggung jawab sebuah beban.


MENGAPA KITA HARUS TANGGU JAWAB


Tanggung jawab merupakan ciri-ciri manusia yang sadar akan amanah yang dititipkan kepadanya. Manusia harus bertanggung jawab karena setiap tindakannya akan menghasilkan akibat buruk dan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Berikut ini alasan pentingnya memiliki sifat tanggung jawab:
1.      Setiap manusia harus memiliki tanggung jawab jika mau dipandang sebagai manusia karena orang tidak memiliki tanggung jawab akan hanya memenuhi bumi kita yang sempit ini. Tanggung jawab berarti melakukan apa yang harus kita lakukan misalkan kita sebagai pelajar, tanggung jawab yang kita miliki adalah belajar dan membayar uang sekolah. Tanggung jawab sangat penting sekali di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk contoh sederhana adalah membuang sampah, kita sebagai masyarakat harus bertanggung jawab atas lingkungan yang kita tinggali dari sisi kebersihan, keamanan dan kenyamanan. Maka dari itu tanggung jawab sangat diwajibkan bagi semua orang untuk melakukannya. Banyak sekali orang tidak mau melakukan tanggung jawabnya.
2.      Jika kita tidak melakukan tanggung jawab maka kita juga tidak mendapatkan hak kita.Jadi tanggung jawab sangat erat dengan hak. sebagai contoh jika kita tidak membayar uang sekolah, apakah kita akan mendapatkan tempat disekolah itu untuk belajar. Dan masih banyak hal lain yang dapat kita lihat sehari-hari. Sebagai warga negara kita memiliki tanggung jawab untuk membela dan mempertahankan negara kita dari gangguan dari luar maupun dalam negeri. Selain itu, kita juga berkewajiban untuk membayar pajak. Sehingga dengan membayar pajak tersebut kita akan memperoleh hak kita seperti kualitas pelayanan publik dan infrastrukur umum yang semakin membaik pula. Dapat kita bayangkan apabila seseorang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Misalnya saja ada seseorang pelajar yang tidak melakukan tanggung jawabnya untuk belajar atau mengerjakan tugas, maka nilai akademiknya akan berantakan. Atau ada orang tua yang tidak menjalankan kewajibannya untuk menafkahi, mengajar dan mendidik anak-anaknya, maka tentu saja anak – anaknya akan mengalami kesulitan di masa depannya.
Berdasarkan pada contoh-contoh ini dapat kita ketahui bahwa pentingnya rasa tanggung jawab untuk dimiliki setiap orang karena dengan rasa tanggung jawab seseorang tidak mengalami kerugian  baik yang berdampak pada dirinya sendiri maupun orang lain sehingga ia akan memperoleh haknya dengan seutuhnya. Dengan tanggung jawab, orang lain menjadi simpati terhadap kita, sehingga kualitas kita di mata orang lain akan meningkat dengan sendirinya.


JENIS-JENIS TANGGUNG JAWAB


Selain bertanggung jawab kepada diri sendiri, rasa tanggung jawab kita juga terdapat pada keluarga, masyarakat dan negara kita. Berikut ini akan diuraikan jenis-jenis tanggung jawab tersebut:

1.      Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut seseorang untuk sadar dalam memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan cara mengembangkan kepribadian sebagai manusia. Misalnya dengan bersekolah, mengikuti les berbagai mata pelajaran, ikut serta dalam seminar motivasi, dan belajar mengaji maupun kegiatan-kegiatan pengembangan diri lainnya. Pengembangan diri ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu  karena di dalam proses kehidupannya ia akan mempunyai banyak tanggung jawab baik itu besar maupun kecil sehingga ia akan mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah atau beban yang dihadapinya. Dengan demikian tanggung jawab terhadap diri sendiri merupakan tanggung jawab yang terkait dengan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kemanusian yang ada pada diri setiap manusia. Misalnya, seorang pelajar yang tidak belajar ketika hendak menghadapi ujian sekolah maka nilai yang diperolehnya tidak memuaskan. Konsekuensi nilai yang rendah merupakan bentuk tanggung jawab pelajar tersebut atas kemalasannya.

2.      Tanggung Jawab Terhadap Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantugan. Di dalam satu keluarga, setiap anggotanya memiliki peran dan tanggung jawab. Ayah sebagai seorang kepala rumah tangga bertanggung jawab untuk mencari nafkah, melindungi dan memberi rasa aman terhadap  istri dan anak-anaknya. Seorang ibu juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yaitu berperan untuk mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Sedangkan tanggung jawab seorang anak tergantung dari perkembangan fisik dan pikiran. Karena di dalam sebuah keluarga terdiri atas beberapa anggota, maka sudah sepantasnya setiap anggota keluarga bertanggung jawab untuk menjaga nama baik dan kesejahteraan anggota keluarga lainnya.


3.      Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya, sejak terlahir di dunia manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup tanpa ada bantuan orang lain. Seorang bayi yang baru saja lahir memerlukan perlindungan dan kasih sayang dari keluarga sehingga ia mampu untuk tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa. Di dalam hidup bermasyarakat, setiap anggota masyarakat tidak akan lepas dari bantuan orang lain. Ini menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan bantuan satu sama lain. Dengan demikian, setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab untuk membantu anggota masyarakat lainnya dengan tujuan untuk menjaga keberlangsungan hidup di dalam masyarakat tersebut. Misalnya memberi bantuan kepada anggota masyarakat yang sedang mengalami musibah.

4.      Tanggung Jawab Terhadap Bangsa atau Negara
Selain memiliki hak, setiap warga negara juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap negaranya. Sebagai warga negara kita bertanggung jawab untuk menjaga negara dari berbagai bentuk gangguan. Misalnya: TNI memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan NKRI dari gangguan dalam maupun luar negari. Sebagai warga negara, kita berkewajiban untuk membayar pajak dan bertanggung jawab untuk menjaga fasilitas-fasilitas umum yang telah disediakan negara. Karena setiap individu merupakan warga suatu negara, maka dalam berpikir dan bertindak akan diatur oleh norma-norma dan aturan yang berlaku di dalam negaranya.

Dengan demikian, selain bertangggung jawab terhadap diri sendiri kita juga perlu menanamkan rasa tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negara agar semua hak dan kewajiban dapat berjalan sesuai dengan peranannya. Jika setiap orang menjalankan tanggung jawabnya sesuai dengan perannya masing-masing maka akan menimbulkan perasaan untuk saling mengharga satu sama lain.



BEBERAPA CIRI ORANG YANG TANGGUNG JAWAB


Pribadi yang bertanggung jawab merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap orang. Lantas seperti apakah ciri-ciri orang yang memiliki rasa tanggung jawab. Menurut Ainy Fauziah seorang Leadership Coach dan Motivator menyebutkan bahwa ada delapan ciri-ciri yang dapat digunakan untuk mengetahui bahwa seorang memiliki rasa tanggung jawab, yaitu sebagai berikut:

1.      Melakukan apa yang ia ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah ia ucapkan.
2.      Komunikatif, baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan maupun klien.
3.      Memiliki jiwa melayani dengan sepenuh hati sekaligus menghilangkan pemikiran “ siapa butuh, dia yang harus datang”
4.      Menjadi pendengar yang baik termasuk hal-hal yang bersifat masukan, ide, teguran maupun sanggahan yang menunjukkan perbedaan pendapat. Tidak penting siapa yang berbicara tapi hal yang terpenting adalah isi dari pembicaraannya.
5.      Berani meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak menggulangi kembali kesalahan tersebut.
6.      Peduli pada kondisi orang lain, baik itu teman kerja, anggota tim, atasan, bawahan maupun kondisi tempat ia berada.
7.      Bersikap tegas yaitu memberikan nasehat dan teguran kepada setiap orang yang salah. Sebagai seorang atasan dan menemukan karyawannya tidak bertanggung jawab sudah seharusnya untuk memberi nasehat dan teguran.
8.      Rajin memberi apresiasi.
Apresiasi tidak selalu berupa materi, akan tetapi dapat juga berupa ucapan terima kasih secara langsung kepada orang lain.

Jika kita memiliki salah satu di antara delapan ciri di atas maka dapat dikatakan bahwa rasa tanggung jawab di dalam diri kita mulai tumbuh. Akan tetapi sangat penting bagi kita untuk terus menumbuhkan dan berusaha untuk meningkatkan rasa tanggung jawab maka dengan sendirinya ciri-ciri yang lainnya akan terlihat  dan tumbuh di dalam kepribadian kita.






BEBERAPA CARA BELAJAR MENJADI TANGGUNG JAWAB


Berdasarkan pada uraian di atas, pada kenyataannya, sikap bertanggung jawab  akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dan  memiliki banyak manfaat. Oleh karena itu, untuk sangat penting bagi kita untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam kepribadian kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhakan sikap atau rasa tanggung jawab:

1.     Menyadari bahwa diberi tanggung jawab itu merupakan hasil usaha
Jika kita merasa bahwa orang lain merasa ragu untuk memberi kita tanggung jawab, mungkin itu disebabkan oleh diri kita yang selalu mengeluh dan kurang bertanggung jawab di dalam melakukan tugas. Atau di dalam pikiran kita timbul rasa bosan terhadap tugas-tugas yang diberikan kepada kita karena tidak sesuai dengan keinginan kita. Tanggung jawab tidak hanya berupa sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, akan tetapi dapat juga berupa sesuatu yang membuat kita bosan. Jika kita hanya mau menerima tanggung jawab sesuai dengan keinginan kita, hal itu menunjukkan bahwa kita bukanlah orang yang bertanggung jawab karena tidak mau menerima sesuatu di luar keinginan.

2.     Berhenti membuat alasan
Di dalam melakukan sesuatu tentu saja ada sesuatu yang berada di luar kontrol kita. Orang yang tidak bertanggung jawab biasanya akan membuat berbagai alasan terkait dengan berbagai faktor di luar kendalinya yang menjadikannya tidak dapat menyelesaikan suatu tugas.

3.     Mengakui kesalahan yang telah dilakukan
Suatu kewajaran bagi kita jika melakukan sesuatu terjadi kesalahan. Akan tetapi jika kesalahan tersebut terus berulang – ulang bukanlah hal baik bagi kita. Oleh karena itu , kita harus mengevaluasi setiap kesalahan yang telah terjadi. Selain itu, kita tidak perlu untuk mencari alasan dan menutup-nutupi kesalahan tersebut. Orang yang bertanggung jawab adalah apabila ia melakukan kesalahan ia akan mengakui kesalahan tersebut.

4.     Berhenti menyalahkan orang lain
Tahap selanjutnya yang dapat kita lakukan agar menjadi orang yang bertanggung jawab adalah berhenti untuk menyalahkan orang lain. Cobala untuk mengevaluasi dan memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi daripada menyalahankan orang lain. Karena dengan menyalahkan orang lain akan menimbulkan rasa tidak senang orang lain terhadap kita, dan kemungkinan akan timbul rasa dendam orang terhadap kita. Hidup terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita, akan tetapi sikap kita lah yang lebih penting dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi.

5.     Berhenti mengeluh
Mengeluh bukanlah sesuatu yang dapat menyelesaikan suatu persamalahan. Menggeluh tidak akan mampu mengubah keadaan karena tanpa disertai dengan tindakan. Walaupun disertai dengan tindakan, hasil yang diperoleh pun tidak maksimal karena pada saat mengeluh kita akan merasa terpaksa dalam mengerjakan tugas. Daripada mengeluh, lebih baik kita memikirkan berbagai alternatif solusi yang dapat mengatas berbagai masalah yang sedang terjadi.


6.     Belajar disiplin
Untuk menjadi orang yang bertanggung jawab maka kita harus mampu untuk berlaku disiplin di dalam setiap mengerjakan tugas. Hal ini dilakukan agar setiap pekerjaan yang kita lakukan selesai tepat pada waktunya. Bentuk tanggung jawab terhadap suatu tugas bukan hanya tugas tersebut dikerjakan, akan tetapi ketepatan waktu di dalam menyelesaikannya juga merupakan tanggung jawab.

7.     Belajar menangani pekerjaan sulit
Agar kita benar-benar menjadi orang yang bertanggung jawab, cobalah untuk sesekali untuk mengerjakan hal-hal yang sulit. Karena dengan berbagai kesulitan tersebut akan menumbuhkan karekter kita yang lebih kuat terhadap berbagai permasalah yang terjadi. Jika kita hanya terbiasa dengan tugas-tugas yang mudah, daya tahan kita terhadap suatu permasalah hanya berlevel mudah saja sehingga pada saat datang tugas yang lebih sulit kita akan mudah mengeluh.




8.     Belajar untuk melakukan berbagai hal sekaligus
Melakukan hal secara bersamaan merupakan kemampuan yang harus kembangkan jika ingin menjadi orang yang bertanggung jawab. Karena pada keadaan yang nyata, biasanya kita di dalam waktu tertentu tidak hanya mendapat satu tugas, bisa saja lebih dari satu tugas. Walaupun mengerjakan berbagai hal dalam waktu yang relatif sama sulit dilakukan, minimal selesaikanlah satu tugas tepat pada waktunya agar tidak terjebak dalam tumpukan tugas.

9.     Belajar berkomitmen
Berkomitmen terhadap sesuatu akan membantu kita belajar bahwa ada hal lain selain diri kita sendiri yang harus dijaga untuk kelangsungan hidup kita. Semua perencanaan yang telah ditetapkan tidak akan membuahkan hasil bila kita tidak memiliki komitmen untuk menyelesaikan atau mengimplementasikannya.

10.  Menjadi orang yang konsisten
Konsisten dalam melakukan sesuatu merupakan hal yang sangat penting karena ini akan menentukan hasil yang akan kita peroleh. Jika kita tidak konsisten dengan suatu pekerjaan maka untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi tidak tepat waktu. Konsisten sangat penting karena  dengan konsisten kita akan menjadi fokus terhadap suatu pekerjaan.

11.  Belajar untuk menerima kritik
Terkadang hal yang tersulit bagi kita adalah menerima kritik dari orang lain. Agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, kita harus mau menerima kritit dan saran dari orang lain karena dengan sikap yang terbuka kita akan mengetahui kekurangan  dan kelebihan dalam mengerjakan tugas.

12.  Menjadi orang yang dapat dipercaya
Jika di dalam diri merasa bahwa orang lain ragu terhadap kemampuan kita, maka cobalah untuk membuktikannya dengan mengerjakan berbagai tugas dengan penih tanggung jawah dan serius. Sehingga pada akhirnya penilaiannya terhadap kita akan berubah bahwa kita merupakan orang yang mampu untuk menyelesaikan tanggung jawan yang dibebankan kepada kita.

13.  Jadilah orang yang memiliki tujuan
Agar mempunyai arah, maka kita harus menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang dalam menyelesaikan sesuatu. Karena dengan mempunyai tujuan kita akan termotivasi dan memiliki arah untuk menyelesaikan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Dengan membiasakan diri pada prilaku-prilaku di atas maka lama-kelamaan prilaku-prilaku tersebut akan menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Untuk menjadi orang yang bertanggung jawab kita harus memiliki komitmen untuk terus melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang mungkin pada saat pertama kali melakukannya membuat diri kita terpaksa. Akan tetapi, jika kita memiliki komitmen yang tinggi maka kita akan mampu untuk melakukannya.


AKIBAT TIDAK TANGGUNG JAWAB


Rasa tanggung jawab sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Karena sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh karena memiliki sifat ini sebagai mana yang telah duraikan di atas. Jadi, apakah akibat jika seseorang tidak memiliki rasa tanggung jawab atau yang melalaikan tanggung jawabnya. Berikut ini adalah akibat yang ditimbulkan jika seseorang tidak memiliki atau melalaikan tanggung jawab yang dipikulnya:

1.     Tanggung jawab adalah sesuatu yang kita lakukan sebelum menerima hak. Tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa tangung jawab hidup akan menjadi kacau. Misalnya saja ada seorang ayah yang tidak bertanggung jawab maka keluarga akan sengsara. Atau sebagai seorang pelajar yang harus memiliki tanggung jawab untuk belajar, jika ia tidak belajar maka nilai yang diperolehnya rendah, bahkan menyebabkan pelajar ini tinggal kelas.
2.     Jika kita melalaikan tanggung jawab, maka kualitas diri kita menjadi rendah. Karena selain menyangkut diri kita sendiri, tanggung jawab juga menyangkut orang lain, yaitu penilaian orang lain terhadap kita. Oleh karena itu, sekecil apapun tanggung jawab yang kita pikul akan memberikan dampak. Tanggung jawab yang dilakukan dengan segera akan memberikan manfaat berupa kebaikan, sebaliknya tanggung jawab yang dilalaikan akan menimbulkan dampak negatif berupa keburukan.
3.    Selain itu, jika melalaikan tanggung jawab maka dengan sendirinya akan timbul merasa bersalah dan mengecewakan orang lain. Hal ini terjadi karena setiap tanggung jawab kita terima dari orang lain merupakan bentuk lain dari harapan orang ini terhadap kita. Sehingga apabila tanggung jawab tersebut kita lalaikan maka harapan orang ini akan sirna. Mungkin saja, satu kali melalaikan tanggung jawab kita masih dapat ditoleransi, akan tetapi jika hal ini sering kita lakukan maka lama-kelamaan kepercayaan orang terhadap kita akan hilang.

Berdasarkan pada berbagai akibat ini, maka penting bagi kita untuk mengintropeksi diri apakah semua tanggung jawab yang diemban kita saat ini telah dijalankan dengan baik sesuai dengan peran kita masing-masing. Jika diri kita masih kurang bertanggung jawab atau masih melalaikan tanggung jawab maka mulailah saat ini untuk memperbaiki diri dengan menjalankan tanggung jawab yang kita emban saat ini ataupun yang akan datang dengan sungguh-sungguh.





































BAGIAN 2
KISAH TELADAN


BERJALAN 50 KM SEHARI, DEMI BERTANGGUNG JAWAB KELUARGA


Kisah inspiratif kita kali ini datang dari seseorang yang begitu sangat sederhana, namun penuh dengan pelajaran yang amat sangat berharga. Seorang kakek berusia 71 tahun, penjual es Dawet keliling yang tinggal di pinggiran kota Surakarta.
Pak Sukimin, nama dari kakek tersebut, seorang pahlawan keluarga yang menginjak usia renta, tapi sama sekali tidak surut semangatnya untuk terus berjuang dan bekerja keras. Tidak kurang dari 50 kilo meter ditempuhnya setiap hari, dengan memikul gerobak es seberat 40 kg, mulai dari jam 5 pagi sampai jam 8 malam. Semua itu terdorong atas kuatnya keinginan bahwa dia menjauhi sifat meminta- minta dan karena pemenuhan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Selama 40 tahun lebih, pekerjaan tersebut telah dilakukannnya. Dan Subhanallah, kerja keras setiap hari itupun ternyata tidak terus membuatnya jauh dari sang maha kuasa. Walau dalam hujan dan panas, ketika mendengar adzan, seketika itu pula pak Sukimin mencari masjid terdekat dan menjalankan sholat berjamaah. Selain itu, cara belajar keikhlasannya yang begitu sangat sederhana, namun menyentuh hati semua orang yang melihatnya adalah dengan penerimaannya atas pembagian rejeki yang diterimanya dari Allah subhanahu wataala.
"Saya pernah waktu sholat, gerobak saya tinggal didepan masjid. Saya sudah pasrahkan sama Allah saja. Tapi ternyata ada orang jahat yang mengambil semua uang yang telah saya dapat seharian. Tapi saya ikhlas kok. Kalau sampai diambil orang berarti itu bukan rejeki saya. Biar untuk dia saja tidak apa- apa, semoga lebih berguna untuk dia." Cerita bapak 5 orang anak ini.
Menurut pak Sukimin, dalam hidup ini manusia mendapatkan peran yang bermacam- macam, namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan, pekerjaan apapun itu adalah untuk mencari ridho Allah. Saja. Dan hal itulah yang meringankan hatinya jika musibah datang menghampiri. " Seringkali ada orang yang beli namun tidak bayar, saya menunggu sampai lama ternyata orangnya tidak membayar. ya saya tidak apa- apa. Kan sudah diminum juga. Sah kok itu untuk dia." lanjutnya. Beliau juga tidak terlalunya sedih saat tubuh rentanya telah lelah memikul gerobak yang sedemikian berat, sehingga kakinya tersandung dan pecahlah semua barang dagangannya. " Lah wong sudah jatuh, mungkin belum rejeki saya. ya nanti kapan- kapan berarti saya diajari Allah disuruh hati- hati lagi". Subhanallah, kemiskinan ternyata tidak menghalangi batinnya untuk menerapkan ilmu ikhlas kepada sesamanya.

Memang, kehidupan ini tidak sempurna dan tidak banyak memberi kesenangan kepada pak Sukimin, namun hal itu juga tidak membuat beliau ragu untuk membagikan ilmunya kepada yang ingin berguru kepadanya. " Rejeki itu sudah diatur sang maha kuasa. Saya ini hanya perantara saja. saya sama sekali tidak takut tersaingi. Malah ilmu yang saya berikan nanti itu, akan menemani saya saat saya mati nanti. saya percaya itu". Sama sekali tidak ada rasa permusuhan ataupun iri dengki dalam ketatnya persaingan dan beratnya hidup. Dalam susahnya mencari rupiah, justru membuat pak Sukimin semakin berbesar hati untuk berbagi. Hal yang sangat jarang untuk bisa dilakukan, bahkan oleh orang kaya sekalipun, jika tidak murni adanya perbuatan itu yang hanya karena Allah.
Kesabarannya dalam menghabiskan jatah hidup detik per detik telah menempanya menjadi seorang manusia yang kuat, tabah dan tidak pengeluh. Hal inilah juga yang menyebabkan beliau tetap bersemangat untuk menjual dagangannya walaupun dalam kondisi cuaca apapun." Kalau lagi hujan, ya saya tidak bisa berteduh, harus tetap jalan. Nanti kasihan ibu nunggu dirumah malah kawatir. Akhirnya saya pakai saja plastik untuk sekedar menutup tubuh agar tidak dingin " Kata Kakek dari 11 cucu tersebut.
Bagi pak sukimin, bukan kemiskinan yang menyakitkan hatinya, tapi saat dia tidak bisa bekerja lagi untuk menyenangkan hati keluarganya, terutama sang istri. Penghasilan yang hanya 30 ribu rupiah sehari, tidak mengurangi kesyukurannya atas jatah rejeki yang telah dibagikan dari sang maha kuasa. " Saya dan istri selalu bersyukur dengan apa yang ada. buat saya yang penting istri dan keluarga senang. Jangan pernah iri dengan yang dimiliki orang lain"
Subhanallah, betapa akan sangat membahagiakan mempunyai ayah, ataupun suami yang bisa menjadi tauladan seperti beliau. Beliau sangat setia kepada keluarga dan setia kepada tanggung jawab pekerjaannya.Keluguan dan kesederhanaan serta keikhlasan yang sangat apa adanya memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Semoga Allah selalu menjaga beliau, sebagai balasan kuatnya penjagaan amanah beliau atas kebahagiaan keluarganya


BOCAH JADI PEMULUNG, DEMI BANTU AYAH LUMPUH

Satu lagi sebuah kisah yang sangat mengharukan dari Negeri Tirai Bambu, seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.

Adegan yang mengharukan Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu.

 Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya. Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup. Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang.

 Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit. Satu keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2 Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21″ sudah merupakan barang mewah. Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga. Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada "dapur" yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. "Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan." Kata Xiong Chun. Setiap hari memijat papanya 3 kali Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse.

 Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur. "Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga. "Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan: "Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini."

Boneka 5 Yuan yang paling disukainya Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan. Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. "Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya," Kata Xiong Chun. Begitu Tidak Boleh Sekolah, Langsung Menangis Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan "Meja kecilnya" keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya.

"Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi," kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis.



UMAR TAKUT JIKA MENELANTARKAN RAKYAT



Muawiyah bin Hudaij radhiallahu ‘anhu datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar. Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. Kemudian berkata keapda Muawiyah, “Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di masjid?” “Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab Muawiyah. Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah?
Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud kasihan kepada Umar. Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar. Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya, sehingga mereka rela jika Umar beristirahat. Tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya mereka kepadanya.
Umar berkata, “Jika ada seekor onta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu2.
Karena onta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika onta itu mati sia-sia; karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat. Subhanallah… kalau rasa tanggung jawab kepada hewan pun sampai demikian, bagaimana kiranya kepada manusia? Semoga Allah meridhai dan senantiasa merahmati Anda wahai Amirul Mukminin…
Berkaca pada keadaan kita jalan berlubang sehingga banyak yang celaka, banjir, macet, tidak aman di jalanan, dan lain sebagainya. Diklaim sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Memang standarnya berbeda.
Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam hayatnya, Umar radhiallahu ‘anhu duduk bersimpuh kemudian membentangkan rida’nya. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit. Ia berucap, “Ya Allah.. sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah, sementara rakyaku semakin banyak (karena wilayah Islam meluas pen.), cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak disia-siakan.”
Umar adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana. Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat. Nah, pada suatu malam itu, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak². Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan di kelilingi oleh anak²nya yang masih kecil.
Si ibu berkata kepada anak²nya: "Tunggulah...!!! Sebentar lagi makanannya matang...!!!" Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak²nya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang. Sang Khalifaf menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.
Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu.
"Mengapa anak²mu tidak juga berhenti menangis Bu...???" (tanya Sang Khalifah.)
"Mereka sangat lapar...!!!" (jawab si ibu.)
"Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu...???" (tanya Khalifah.)
"Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur...!!!" (jawab si ibu.)
Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.
Kemudian Khalifah bertanya lagi:
"Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari...???"
"Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...!!!" (jawab si ibu.)
Hati dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris² oleh sebilah pisau yang tajam.
"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat menolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal...???" (tanya sang khalifah lagi.)
"Ia telah zalim kepada saya...!!!" (jawab si ibu.)
"Zalim...!!!" (kata sang khalifah dengan sedihnya.)
"Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya...!!!" (kata si ibu.)
Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiridan berkata:
"Tunggulah sebenatar Bu ya. Saya akan segera kembali...!!!"
Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.
Jarak antara Madinah denga rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata:
"Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa²ku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak²nya itu...!!!"
Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak²nya di Baitul Mal.
Setelah keesokan harinya, ibu dan anak²nya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah

UMAR BIN KHATTAB



Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.
“Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal.”
Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; “Ya Amiirul Muminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”
“Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.
“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”
“Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” tanya khalifah Umar ragu-ragu.
“Ya Amiirul Muminin, benar adanya.”
“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”
“Baik ya Amiirul Muminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu seraya berlalu. Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir Amr bin Ash.
Ketika sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya. “Ya Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak saya di muka umum.”
“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” tanya salah seorang yang hadir.
“Ya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu tegas.
“Tetapi, dia kan gubernur kita?”
“Seandainya yang menghina itu Amiirul Muminin, saya juga akan menuntutnya.”
“Ya, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri.”
Maka banyaklah yang berdiri.
“Apakah kamu akan memukul gubernur?” tanya mereka.
“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebanyak 40 kali.”
“Tukar saja dengan uang sebagai pengganti pukulan itu.”
“Tidak, walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak itu,” jawabnya .
“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau jadi penggantinya,” bujuk mereka.
“Saya tidak suka pengganti.”
“Kau memang keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun.”
“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujarnya seraya meninggalkan tempat.
Amr binAsh serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.
“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata gubernur Amr bin Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.
“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?” tanya lelaki itu.
“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab gubernur.
“Tidak, sekarang aku memaafkanmu,” kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.



AMR BIN ASH



Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.
Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.
“Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.
Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.
“Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.
Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.
Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.
Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.
“Tunggu!” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..” sela si kakek.
“Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur.
“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.


1.     Inilah alasanku berhenti jadi wanita karir

Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.
Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.
Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”
Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?
Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.
Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.
Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”
Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.
Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.
Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.
Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.
Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.
Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar
Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya..



KESUKSESAN GABRIEL



Gabriel adalah satu satunya anak dari orang tua yang sangat berpendidikan, sejak kecil ia telah kenyang dengan perlakuan keras dan tegas oleh orang tuanya, walaupun ia anak yang pandai cerdas dan berprestasi, akan tetapi orang tua yang idealis itu sangat tidak merasa puas dengan setiap prestasi yang di raih anaknya dari kecil hingga menginjak dewasa itu. Sewaktu masa, Gabriel yang duduk di bangku SD selalu mendapatkan prestasi dan menjadi jawara kelas, bagaimana tidak, orang tua yang sangat menerapkan kedisiplinan dan ketegasan dalam mendidik anaknya, yang setiap hari harus belajar belajar dan belajar tanpa mengenal lelah dan waktu.
Sepulangnya sekolah ia harus les dan mengulang materi materi yang di pelajarinya dikelas dan seterusnya seperti itu. Tiba pada saat sesekali ia capek dan merasa lelah, ia menolak perintah orang tuanya untuk tidak masuk les sesekali, pada saat itu juga orang tua langsung merespon permintaan Gabriel dengan cara mencubit, memarahi dan memukul Gabriel, tetapi Gabriel tetap bersih keras sambil menangis hingga merengek untuk tidak masuk les, orang tuanya pun semakin menjadi dan berusaha memasukkan Gabriel ke dalam bak mandi dan setelah itu dikuncinya di dalam kamar mandi selama 1 jam. Hukuman yang seperti itulah yang harus diterima Gabriel setiap ia melakukan kesalahan dan tidak menuruti keinginan orang tuanya bahkan bisa lebih berat lagi hukumannya. Hingga rangking 1 adalah makanan wajib yang harus diraih Gabriel setiap semesternya. Apabila Gabriel tidak mampu meraih rangking 1 walaupun itu hanya sekali maka gabriel harus menerima hukuman dari kedua orang tuanya.
Awalnya Gabriel berfikir bahwa orang tuanya sangat kejam, sehingga ia sangat dendam dan capek dengan perlakuan orang tuanya. Semua orang pun akan berfikir yang demikian, tapi Gabriel bisa apa? Hingga suatu ketika ia dewasa, ia berhasil menjadi seorang yang sukses dan mampu membanggakan orang tuanya, dari situ Gabriel sadar ternyata perlakuan keras dan tegas orang tuanya pun membawa dampak positif terhadap masa depannya, akan tetapi agaknya gabriel terbentuk dengan kepribadian yang cenderung agak tempramen dan pendiam, dan sangat sulit berinteraksi dengan orang disekitarnya.



KISAH TANGGUNG JAWAB SEORANG ANAK



Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.
Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.
Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggung jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit. Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua diakerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari. Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali. Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.



KISAH INSPIRASI SEORANG ANAK 6 TAHUN

Cerita kehidupan yang dijalani Tse Tse, seorang bocah berusia 6 tahun yang terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga yang   belum seharusnya menjadi tanggung jawab dia. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.
Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya
Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.
Satu keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2. Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21? sudah merupakan barang mewah. Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga. Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada “dapur” yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. “Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.” Kata Xiong Chun. Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse. Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur. 
Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga. “Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan: “Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini.”  Boneka 5 Yuan yang paling disukainya Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan.Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. “Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya,” Kata Xiong Chun. Begitu Tidak Boleh Sekolah, ia langsung menangis.  
Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan “Meja kecilnya” keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya. Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi,” kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis. Xiong Chun berteriak, “Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah, bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja.” Tse Tse yang sedang bermain boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik Tse Tse ke sisinya, membujuk: “Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa sekolah!” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya. “Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal….,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata lagi. Xiong Chun berkata: “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan saya.”Sebuah kisah kehidupan yang bisa menjadi cermin bagi kita yang lebih beruntung dari seorang bocah bernama Tse Tse  


PENGAKUAN DOKTER ABORSI YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS 75.000 ABORSI

Dr Bernard N. Nathanson , seorang aktivis hak-hak aborsi, setelah mengalami perubahan hati pada 1970-an menjadi penentang terkemuka aborsi dan menjadi narator di layar dari film anti - aborsi " The Silent Scream ".Dr Nathanson , seorang dokter kandungan - yang berpraktek di Manhattan , membantu mendirikan Asosiasi Nasional untuk Pencabutan Hukum Aborsi (sekarang NARAL Pro - Choice America ) pada tahun 1969 dan menjabat sebagai penasihat medis .
Setelah aborsi dilegalkan di New York pada tahun 1970 , ia menjadi direktur dari Pusat Reproduksi dan Kesehatan Seksual , yang sering disebut " klinik aborsi terbesar di dunia Barat”. Dalam sebuah artikel 1974 yang dilaporkan secara luas di The New England Journal of Medicine , “Deeper into Abortion,” Dr Nathanson menjelaskan keraguan moral dan medis yang berkembang tentang aborsi .
" Saya sangat terganggu dengan bertambahnya kepastian saya sendiri bahwa saya sebenarnya sudah bertanggung jawab atas lebih dari 60.000 kematian . "Kegelisahannya bertambah secara intensif melalui gambar disediakan oleh teknologi baru fetoskopi dan USG ." Untuk pertama kalinya , kita benar-benar bisa melihat janin manusia , mengukur itu , mengamatinya , melihatnya , dan ikatan yang dalam dengan itu dan menyukainya , " ia kemudian menulis dalam " The Hand of God: A Journey from Death to Life by the Abortion Doctor Who Changed His Mind  ( Regnery Publishing , 1996) . " Saya mulai melakukan itu . "Meskipun muncul keraguan itu dan keyakinannya bahwa permintaan  aborsi adalah salah , ia terus melakukan aborsi karena alasan secara medis masih diperlukan ." Pada tingkat emosional , saya masih menyukai aborsi , " katanya kepada majalah New York pada tahun 1987 . " Ini mewakili semua hal yang telah kita perjuangkan dan menangkan . Tampaknya sungguh lebih beradab dibanding pembantaian yang telah terjadi sebelumnya. "Tapi, ia menambahkan , " Hal itu membuat semakin kurang masuk akal dan kurang intelektual bagi saya. "
Selain 60.000 aborsi dilakukan di klinik , yang ia jalankan tahun 1970-1972 , ia bertanggung jawab untuk 5.000 aborsi yang ia lakukan sendiri , dan 10.000 aborsi dilakukan oleh orang di bawah pengawasannya ketika ia menjabat sebagai kepala layanan obstetri Rumah Sakit  St Luke di Manhattan 1972-1978 .Dia melakukan prosedur terakhir di akhir tahun 1978 atau awal tahun 1979 pada pasien lama yang menderita kanker dan segera memulai karir baru sebagai penceramah dan menulis menentang aborsi ." The Silent Scream " sebuah film 28 menit yang diproduksi oleh Crusade for Life , dirilis pada awal 1985 . Di dalamnya , Dr Nathanson menggambarkan tahapan perkembangan janin dan memberikan komentar sebagai sonogram menunjukkan secara detail grafis aborsi janin usia 12 minggu dengan metode hisap .
"Kami melihat mulut anak terbuka meneriakkan jeritan bisu , " katanya , seperti gambar USG , melambat untuk nampak dramatis , menunjukkan janin tampak menyusut dari instrumen bedah . "  Ini adalah jeritan bisu seorang anak yang terancam binasa dalam waktu yang singkat. " Film ini menuai pujian yang penuh antusias dari Presiden Ronald Reagan yang menunjukkan hal itu di Gedung Putih , dan didistribusikan secara luas oleh kelompokkelompok anti aborsi seperti National Right to Life Committee.
Pendukung hak aborsi dan banyak dokter , mengkritik sebagai menyesatkan dan manipulatif . Beberapa ahli medis berpendapat bahwa janin 12 minggu  tidak bisa merasakan sakit karena tidak memiliki otak atau jalur saraf berkembang , dan bahwa film menunjukkan hanya reaksi murni yang disengaja terhadap rangsangan .
Dr Nathanson menentang para pengkritiknyakritik dari rasionalisasi. Menanggapi dokter dari sekolah kedokteran Cornell pada program televisi " Nightline , " katanya , " Jika para pendukung pro-choice berpikir bahwa mereka akan melihat janin bahagia meluncur melalui tabung hisap dengan melambaikan tangan dan tersenyum saat melaluinya , mereka akan benar-benar lumpuh karena syok .Dr Nathanson meraih gelar di bidang bioetika dari Vanderbilt University pada tahun 1996 dan tahun itu dibaptis sebagai seorang Katolik Roma - dalam sebuah upacara pribadi di Katedral St Patrick oleh Kardinal John J. O ' Connor , uskup Agung New York. Dia meninggal pada tahun 2011 pada usia 84 tahun.
"Saya percaya sepenuh hati bahwa memang ada kekuasaan Sang Pencipta yang menuntun kita untuk mengakhiri dan berbalik dari kejahatan yang sangat memalukan dan menyedihkan terhadap umat manusia."





MENOPANG SUAMI
                                       
Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun. Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.
Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000). Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.
Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan.
Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.
Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu”, demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.
Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus mengendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.
Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan.
Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin. Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.
Hampir Terpeleset ke Sungai Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih. Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.
Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam.  Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu.
Hati Du Chanyun merasa iba.Sang Suami Menggugat CeraiPada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya. Ia tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar.
Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai. Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda.  Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira. Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja,' ujar pihak kelurahan. Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya. 'Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua.Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.
Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun. Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis. Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.
















































DAFTAR PUSTAKA




Komentar